Author’s Note:Sesuai judul, kali ini ada tugas unik kreatif ala guru bahasa Indonesia saya yang super narsis dengan menyuruh menulis sebuah CERPEN dengan tokoh-tokoh sejarah yang diundi secara acak. Hasilnya, suatu narasi yang entah bagaimana mencampur adukkan ALEXANDER AGUNG, FERDINANT MARCOS, CLEOPATRA, MARTIN LUTHER, LOUIS XVI, dan IMAM BONJOL. Dengan bekal lima otak setengah-waras anak-anak sosA, terciptalah sebuah karya yang setidaknya bisa disebut cerpen. Jangan mual kalau membacanya ya… Here ya go!!
———————————————————————–
EKSPEDISI KE DASAR SUNGAI NIL
Tersebutlah suatu zaman di mana seluruh dunia dilanda kekacauan. Perang dan kelaparan terjadi di mana-mana. Masyarakat hidup di bawah garis kemiskinan. Frasa “damai” pun hanya menjadi impian belaka. Penyebab dari kekacauan bisa dikatakan datang dari tiga orang besar dengan kemampuan dan ambisi tak terbatas yang memicu persaingan di dunia ini. Alexander Agung, pria dengan keberanian dan ambisi laksana singa perkasa yang berasal dari tanah agung Macedonia nun jauh di di Yunani sana. Ferdinand Marcos, si ular dengan keangkuhan dan haus akan keagungan dari kepulauan bergunung-gunung di ujung tenggara Asia, Filipina. Lalu Louis XVI, pria bernyali kecil seperti kelinci dengan hidup penuh keglamoran yang berasal dari tanah berbukit di Eropa; surga anggur dan glamoritas: Perancis.
Dunia yang kacau ditambah ambisi yang melampaui ruang dan waktu membawa tiga pemimpin ini untuk saling berbenturan. Samudra Atlantik di sebelah barat Benua Afrika dipilih menjadi tempat bentroknya ketiga negara besar ini. Namun ternyata, takdir memiliki skenario yang lain. Siapa sangka, sebuah tornado mampu menyatukan ketiga pribadi yang sebelumnya dihantui permusuhan? Check it out!
(Samudra Atlantik, kira-kira 100 km dari Benua Afrika).
”Hari ini akan menjadi hari terakhir kalian, Louis!! Marcos!! Akan kubawa pulang kepala kalian ke Macedonia!!!” Alexander Agung berseru dengan suaranya yang garang sembari mengacung-acungkan pedangnya dari anjungan kapalnya.
“Heh, jangan sembarangan ya! Kau pikir kamu cecunguk kecil bisa membantaiku begitu saja, hah? Bersiaplah untuk mati!!” Marcos menjawab panas. Wajar saja, sebab dia baru saja ditantang oleh Alexander yang jauh lebih muda dari dirinya.
“Hahaha! Mana mungkin om-om keriput seperti kamu mampu membunuhku! Jangan mimpi deh!” Alexander membalas dengan nada mengejek.
Marcos bisa merasakan darah mendidih naik ke kepalanya mendengar hinaan Alexander, “Anak ingusan!! Beraninya kamu! Nggak bisa hormat sedikit sama yang lebih tua ya?! Dasar kamu…!”
“Eh… Halo? Tolong ya, ini bukan hanya dunia kalian berdua lho… Masih ada aku, Louis XVI. Kejam, teganya melupakan diriku…” Louis XVI yang sendari tadi diam mendadak malu-malu angkat bicara. Alexander dan Marcos menghentikan pertengkaran mereka dan menatap Louis yang tampak jelas gugup.
“Kamu ini… niat ikut perang nggak sih?!” Marcos bertanya kasar.
Louis menjawab dengan agak gemetar di bawah pandangan garang Alexander dan Marcos, “Ni… niat sih… tapi…”
“Ya sudah, kalau niat yang serius dong!” Alexander ikut panas.
“Ta… tapi…” Louis sudah tampak hampir menangis.
“Aah! Sudah, nggak usah mengurusi tikus gendut pengecut ini! Hai kamu bocah Yunani! Ayo lanjutkan perang kita!!” Marcos menantang Alexander sembari menghunus pedangnya.
Alexander hanya menyeringai dan menjawab, “Itu yang kuharapkan, om keriput! Kita selesaikan urusan kita sekarang juga!”
Kedua kubu itu sudah siap untuk saling menyerbu ketika terdengar teriakan dari kapal Perancis. Alexander dan Marcos berhenti lalu memandang Louis dengan muka merah menahan amarah.
“APAAN SIIH?? JANGAN GANGGUIN KITA DONG!! LAGI KLIMAKS-KLIMAKSNYA NIIIH!!” Alexander dan Marcos berseru marah hampir pada saat yang bersamaan pada Louis. Tumben sekali kedua orang ini bisa kompak.
Sementara Louis sendiri yang diteriaki tampaknya tidak menyadari kemarahan kedua rekannya. Dia hanya menunjuk ke belakang Alexander dan Marcos sambil berkata gemetaran, “Tor… tor…”
“Apaan sih?? Ngomong yang jelas dong!!” Marcos mulai tidak sabar.
“TORNADO!! LARI!!!” Louis tiba-tiba berteriak. Alexander dan Marcos menoleh ke belakang dan melihat tornado dengan tingkat mematikan 100% meluncur mendekati mereka dengan laju lebih cepat dari Ferrari. Peluang untuk selamat kira-kira 0,001%.
“AAAAAARRGHH!!!!!!!!!!”
#@#@#@#@#@#@#@#@#@#@#@#@#@#@#@#@#@#@#@#@#@#@#@#
(di suatu tempat di benua Afrika, tepatnya di pantai utara Mesir)
Seperti yang sudah diperkirakan, tornado raksasa itu menyapu bersih pasukan Macedonia, Filipina, dan Prancis sampai rata dengan tanah… erhm, rata dengan air. Namun, ternyata para pemeran utama kita, yaitu Alexander, Marcos, dan Louis bisa membuktikan bahwa yang namanya peluang, walaupun yang hanya 0,001%, tetap saja peluang. Ketika ketiga penguasa ini tersadar, mereka sudah terbawa tornado sampai di sebuah tanah tak dikenal yang dikelilingi gurun pasir. Tanpa kehadiran satupun prajurit ataupun perlengkapan perang, ketiga penguasa dengan rasa permusuhan di hati itu tidak punya pilihan lain selain bekerja sama untuk survive dan pulang kembali ke tanah mereka masing-masing.
Akan tetapi, salah satu dari mereka yaitu Marcos, masih enggan untuk bekerja sama. Dalam benaknya ia berpikir akan menyerang mereka lagi bila sudah selamat. Dia pun dengan sok berjalan mendahului Louis dan Alexander. Setelah kurang lebih 100 meter Marcos meninggalkan mereka berdua, tiba-tiba secara tidak sengaja dia terjebak dalam pasir hisap. Dia pun tampak panik dan berusaha untuk keluar dari pasir hisap tersebut. Alexander dan Louis pun segera menghampirinya.
“Aduh, Marcos! Kamu baik-baik saja?? Ayo pegang tanganku! Akan kubantu kau keluar dari situ!” Louis XVI berseru panik sembari mengulurkan tangannya. Ternyata ini orang bisa juga baik pada waktunya.
“Tidak!! Tidak perlu! Aku bisa keluar sendiri…!!” tegas Marcos. Masa seorang diktator Filipina super tenar seperti aku sampai harus mengemis bantuan orang lain hanya untuk keluar dari pasir bodoh!! Begitu pikirnya.
Louis berkata panik, ”Aduuh… Jangan keras kepala dong!! Keadaanmu sudah gawat begitu…” Namun apapun yang Louis katakan, ego Marcos yang kelewat tinggi tidak mengizinkannya untuk meraih uluran tangan Louis yang jarang-jarang tulus sekali itu. Alexander yang semula hanya terdiam akhirnya angkat bicara, “Sudahlah Louis! Biarkan saja bila itu maunya…. Kita lihat apa yang akan terjadi.”
Marcos pun akhirnya bersusah payah seorang diri untuk keluar dari situ. Namun karena dia bukan Antareja, dia jelas-jelas tidak sanggup melawan kekuatan gravitasi. Dia terus terbenam makin lama makin dalam sampai akhirnya hanya leher dan kepalanya saja yang dapat dilihat.
Melihat Marcos yang sudah di ambang maut, Alexander jatuh kasihan juga dan menanyainya lagi, ”Hei om keriput, kamu sudah hampir mati tuh. Bagaimana? Masih menolak bantuan? Kalau kamu pertahankan egomu kamu tidak akan mendapatkan apapun selain kematian, tahu!” Marcos terdiam sejenak mendengar kata-kata Alexander. Emosi berkecambuk di dalam hatinya.
“Baiklah… aku menyerah. Tolong selamatkan aku,” Marcos berkata lirih.
Alexander mendesah, “Begitu saja kok memutuskannya lama amat. Begini saja deh, om keriput, kami bersedia menolong kami dengan satu syarat: Setelah kami menolongmu kamu harus mau bekerja sama dengan kami; tidak ada lagi yang namanya dendam-dendaman seperti dulu. Dendam tidak akan melahirkan apapun selain dendam yang baru. Sekarang kita sama-sama terdampar dan tidak berdaya, jadi buat apa saling menyusahkan?” Marcos tertegun atas kebijaksanaan Alexander yang jauh lebih muda dari dirinya.
“…….Baiklah…”
#@#@#@#@#@#@#@#@#@#@#@#@#@#@#@#@#@#@#@#@#@#@#@#
(di pusat ibu kota Mesir yang ramai)
Setelah menyelamatkan Marcos dan mengubah egonya menjadi kesetiaan, ketiga penguasa nyasar itupun melanjutkan perjalanan mereka untuk mencari cara keluar dari “negeri gurun pasir mengerikan yang panasnya pasti ada setidaknya 50 derajat” (menurut Louis) itu. Setelah berjalan nyaris setengah hari, akhirnya mereka pun mencapai sebuah kota ramai dan sibuk yang tampaknya adalah pusat ibu kota negeri di tengah gurun pasir itu.
Sesampainya di kota mereka bertanya kepada setiap orang yang berpapasan dengan mereka tentang bagaimana caranya supaya mereka dapat keluar dari negeri tersebut. Namun tak ada seorangpun yang menyatakan sanggup membantu mereka. Alasannya mungkin karena tanah asal ketiga penguasa itu benar-benar terpencar-pencar sehingga tidak ada yang mau repot-repot menyeberangi separo dunia hanya untuk mengantarkan ketiga penguasa dengan tampang lecek dan pakaian kucel itu.
Setelah menghadapi penolakan demi penolakan akhirnya seseorang merekomendasikan pada mereka untuk menemui sang penguasa Negeri Mesir, seorang Ratu bernama Cleopatra. Merasa tidak ada pilihan lain, ketiga penguasa nyasar ini pun menghadap sang Ratu untuk memohon bantuannya memulangkan mereka ke negeri asal. Sesampainya mereka di istana Mesir yang megah, mereka segera menghadap Ratu Cleopatra, seorang wanita muda nan jelita dengan keangkuhan dan ambisi yang tercermin dari matanya yang cerdas.
“Ah, aku bisa melihat bahwa tamu-tamuku kali ini adalah orang-orang asing. Baiklah, ada urusan apa kalian denganku? Tolong cepat sedikit, aku banyak urusan.” Cleopatra berkata dengan nada khas penguasa. Alexander dan Marcos mengertakkan gigi mendengar keangkuhan Ratu tersebut. Nada bicaranya seolah-olah merendahkan mereka. Namun apa boleh buat, tanah Mesir ini adalah teritorinya, sedangkan Alexander dkk hanyalah penguasa nyasar di sini. Cleopatra berhak melakukan apapun sekehendak hatinya, sementara mereka sedang tidak dalam posisi untuk menentang.
Louis XVI memutuskan untuk angkat bicara karena khawatir rekan-rekannya yang penaik darah bakal mengacaukan situasi, “Yang Mulia Ratu Cleopatra, kami adalah tiga penguasa dari daratan Eropa dan Asia yang menjadi korban topan dan terdampar di sini tanpa perbekalan maupun peralatan untuk pulang. Kami sungguh mohon pada Ratu untuk bersedia membantu kami supaya kami bisa pulang kembali ke negeri kami masing-masing. Tidak ada seorangpun di kota yang sanggup membantu kami karena negeri kami benar-benar terpencar-pencar. Tapi kami berpikir bahwa seorang Ratu dengan wibawa dan kekuasaan sebesar Yang Mulia Cleopatra pasti sanggup memecahkan masalah sepelik apapun juga.”
Alexander dan Marcos saling bertukar pandang. Ternyata kalau urusannya menjilat orang, Louis XVI bisa jadi sekutu yang diandalkan.
Cleopatra hanya terdiam sejenak, namun nampak jelas bahwa dia tersanjung oleh pujian Louis. Akhirnya sang Ratu pun berkata, “Baiklah, aku akan membantu kalian…” Alexander, Marcos, dan Louis mendesah lega, “…tapi dengan satu syarat…” Raut muka ketiga orang itu berubah serius, “Kalian harus mengambilkan untukku mutiara awet muda yang terletak di dasar sungai Nil dalam waktu seminggu, kalau tidak kalian tidak akan kupulangkan dan harus menemaniku di Istana ini selamanya!!” Ratu Cleopatra berkata dengan nada agak seperti maniak.
Ketiga penguasa itu hanya bisa bengong mendengar keputusan Ratu. Baru ketika akhirnya kata-kata Ratu meresap juga ke dalam otak mereka, mereka baru sanggup mengeluarkan reaksi, “UAPAAAA????!!”
#@#@#@#@#@#@#@#@#@#@#@#@#@#@#@#@#@#@#@#@#@#@#@#
(di pusat kota Mesir)
“Dasar Ratu gila! Seenaknya menyuruh-nyuruh orang seperti itu! Huh, semoga dia cepat mampus dipatok ular atau apalah!” Marcos menggerutu seraya melangkahkan kakinya keluar dari Istana Mesir.
“Tenanglah… Ratu memberikan kita waktu satu minggu untuk mencarinya… lagipula beliau juga berjanji membiayai segala keperluan yang mungkin harus kita keluarkan untuk mencari mutiara itu…” Alexander bergumam lebih kepada dirinya sendiri, “Jadi… bagaimana sekarang? Waktu kita tidak banyak, dan jujur saja aku nggak mau terperangkap selamanya di negeri padang pasir ini bersama seorang Ratu mesum!! Nggak minat…” keluhnya dalam-dalam.
Marcos mengerutkan alis mendengar komentar Alexander, “Hah? Kamu nggak minat sama dia? Aku tahu ratu itu memang gila dan seenaknya tetapi tidak bisa dipungkiri kalau dia itu cantik sekali lho! Atau jangan-jangan…” dia berhenti untuk tersenyum jahil pada Alexander, “…kamu gay, ya, Alexander?? Sudah, ngaku saja deh!!”
Muka Alexander langsung jadi jauh lebih merah dan lebih panas daripada lahar gunung Merapi. Serta merta dia berteriak pada Marcos yang hanya cengar-cengir, “Seenaknya saja!! Siapa yang bilang aku gay!! Aku masih bisa ngiler kalau melihat cewek cantik, tahu!! Aku ini orang normal, ok!!”
“Yah, tak kusangka Alexander Agung yang hebat itu ternyata gay…” goda Marcos.
Muka Alexander tambah merah padam, “Dasar kamu $&#@$^!!!! (disensor)”
Louis hanya mengelus dada melihat rekan-rekannya malah berdebat soal gay sementara nasib mereka di ujung tanduk, “Ehm… teman-teman… maaf mengganggu diskusi kalian… tapi kita hanya punya waktu seminggu dan kita sama sekali nggak punya bayangan bagaimana melaksanakan tugas dari Ratu dan kita juga nggak tahu mau mulai dari mana dan kita sama sekali belum menentukan langkah dan kalau kita nggak cepat-cepat mulai dari sekarang kita bisa terperangkap di Istana ini selamanya bersama ratu freak itu!!” Louis terdengar nyaris putus asa. Apalagi seluruh kalimat itu diucapkannya dalam satu tarikan nafas saja. Benar-benar kelihatan kalau sudah frustasi.
Alexander dan Marcos hanya berpandangan dan memutuskan bahwa sudah saatnya berhenti bersikap kekanak-kanakan dan mulai serius memikirkan prospek mereka ke depan supaya mereka tidak jatuh ke tangan ratu maniak itu. Maka, perjalanan mereka bertiga pun dimulai.
Mereka bertiga mulai berkeliling ke seluruh negeri Mesir untuk mencari tahu bagaimana cara mendapatkan mutiara itu. Setelah dua hari lamanya mereka terus berjalan dan bertanya pada semua orang yang mereka temui, tidak ada respon positif dari responden mereka. Sebagian besar menjawab bahwa mutiara itu hanyalah mitos belaka. Malah ada yang bilang bahwa paling-paling Ratu hanya mengarang mitos itu supaya bisa menggaet ketiga penguasa tampan itu (yang membuat Alexander merinding) menjadi selir(?) dari sang Ratu.
Setelah berputar-putar di negeri padang pasir yang luas itu, akhirnya mereka sampai di depan suatu tempat dengan papan nama besar bertuliskan PERGURUAN TINGGI AL-AZHAR. Melihat nama yang keren itu, mereka tertarik untuk masuk ke dalam dan berusaha mendapatkan informasi dari perpustakaan sebanyak-banyaknya. Tapi, sayangnya tidak satupun informasi mereka dapatkan. Sampai ketika mereka hampir putus asa, ada seorang murid yang menghampiri mereka dan menanyakan apa masalah mereka. Murid tersebut adalah Imam Bonjol, seorang ulama beragam Islam dari Sumatra Utara yang sedang menuntut ilmu disana untuk mempelajari apakah ada keterkaitan agama dewa-dewa yang dianut Mesir dengan agama Islam.
Ramah seperti layaknya seorang ulama, Imam Bonjol bertanya pada mereka dengan sangat sopan sekali, “Hai tuan-tuan, adakah masalah yang sedang menimpa anda sekalian? Adakah yang bisa saya bantu?”
Marcos menjawab lesu, “Kami punya masalah yang mungkin tidak bisa diselesaikan seumur hidup kami.”
Imam Bonjol kembali bertanya, “Oh begitu… Bolehkah saya tahu masalah anda sekalian? Mungkin ada hal yang bisa saya perbuat untuk membantu kalian.”
Alexander menjawab, “Sebenarnya kami sedang mendapat tugas dari Ratu Cleopatra untuk mengambil mutiara awet muda yang katanya terletak di dasar sungai Nil. Baru setelah itu dia akan memulangkan kami, karena kalau tidak, kami dipaksa tinggal di istananya seumur hidup kami. Kami sudah mencari informasi ke seluruh penjuru negeri dan hasilnya nihil. Hal ini sungguh tidak mungkin bukan?” Dia mendesah.
Imam Bonjol berpikir sejenak dan dia kembali menjawab, “Hmm… saya tidak tahu pasti tentang hal ini, tapi saya pernah mendengar tentang adanya sebuah kitab rahasia yang memuat tentang mutiara sakti di dasar sungai Nil yang kabarnya memiliki kekuatan gaib. Mungkin itulah mutiara awet muda yang dimaksud oleh ratu Cleopatra,” Imam Bonjol menguraikan.
Ketiga penguasa lesu itu langsung terbelalak mendengar penjelasan Imam Bonjol. Louis XVI dengan bersemangat bertanya, “Benarkah anda mengetahui tentang hal itu? Apakah anda bisa membantu kami mendapatkan kitab itu?”
Imam Bonjol menjawab, “Seingat saya, setahun yang lalu kitab itu masih berada di perguruan tinggi ini tapi sekarang kabarnya kitab tersebut telah dibawa ke sebuah biara di Italia.”
Mendengar itu semangat ketiga penguasa itu pun bangkit. Apalagi Imam Bonjol yang simpatik dengan nasib mereka bertiga menawarkan diri untuk membantu mereka dan mencari kitab itu bersama-sama.
Namun ternyata masih terlalu cepat untuk senang. Mereka bingung tidak tahu dimana letak daerah dataran Italia tersebut dan bagaimana caranya ke sana. Tiba-tiba ada seorang nelayan yang terdengar ingin menuju ke Italia untuk mengantarkan barang. Mereka berempat langsung saja naik secara diam-diam ke kapal itu dan setelah satu hari lamanya mereka pun sampai di Italia. Mereka mulai bertanya tentang biara yang dimaksudkan oleh Imam Bonjol tersebut dan ternyata tidak sulit untuk menemukan kuil tersebut karena letaknya yang berada di tengah kota. Ketiga orang senasib ditambah satu imam simpatik itu pun segera menuju ke sana untuk mendapatkan kitab tersebut.
Sesampainya disana mereka disambut oleh pemimpin biara itu, seorang pria kecil dengan raut wajah dan tatapan cerdas bernama Martin Luther. Luther dengan ramah menanyakan apa keperluan mereka datang kesana. Setelah penjelasan panjang lebar dari ketiga penguasa putus asa itu Luther hanya manggut-manggut. Nampaknya dia juga simpatik terhadap ketiga penguasa malang tersebut.
Setelah berpikir sejenak, Luther berkata, “Tentang kitab itu kurasa sekarang masih ada di kuil ini tapi sampai sekarang belum ada seorangpun yang berani membukanya, tapi jika tuan-tuan mau saya bersedia membantu.”
Lalu mereka menuju ke sebuah ruangan di bawah tanah kuil tersebut dimana terdapat sebuah perpustakaan kuno yang besar dan terlihatlah sebuah kitab usang yang diletakkan di dalam lemari kaca di tengah perpustakaan tersebut.
Mereka sangat senang mengetahui hal itu dan dengan antusias segera membuka kitab itu, tapi hanya untuk menemukan kekecewaan karena kitab itu ditulis dalam bahasa Ibrani yang tidak diketahui oleh banyak orang. Tapi beruntunglah mereka karena di sana ada seorang Martin Luther yang menguasai banyak bahasa termasuk bahasa Ibrani yang aneh dan langka tersebut. Lalu Martin Luther pun bersedia menerjemahkan kitab itu asalkan dia diajak untuk ikut berpetualang bersama karena terus terang dia sudah agak bosan dengan kehidupan membiara dan katanya mau menyebarkan ajaran Kristen Protestannya ke seluruh dunia. Hal ini hampir saja membuatnya bentrok dengan Imam Bonjol sebagai sesama pemimpin agama tetapi untungnya berhasil dilerai oleh Alexander dkk.
Setelah beberapa jam akhirnya kitab itu berhasil diterjemahkan dan mereka mendapatkan informasi tentang mutiara awet muda itu ditambah dengan solusi untuk mengambilnya dari dasar sungai Nil yang kelihatannya mustahil untuk dilakukan. Di kitab itu tertulis bahwa terjadi gerhana matahari total setiap 100 tahun sekali dimana saat itu air sungai Nil akan menyurut dengan sendirinya dan hanya pada saat itulah mutiara itu dapat diambil. Alexander yang tidak pernah ketiduran saat pelajaran ilmu astronomi dari Aristoteles pun memperhitungkan bahwa hari gerhana matahari total itu akan tiba… keesokan harinya.
Mengingat ini kesempatan sekali seumur hidup, mereka berlima bergegas kembali ke Mesir dengan numpang perahu orang lagi dan cepat-cepat menuju ke arah sungai Nil. Mereka sampai di sana tepat waktu; hari sudah tampak gelap dan gerhana sudah mulai terjadi. Seperti yang tertulis di kitab kuno itu, air sungai Nil benar-benar menyusut dan mereka bisa melihat sebuah peti seperti peti harta karun di dasar sungai Nil. Mereka cepat-cepat mengambil peti itu sebelum air sungai Nil kembali pasang lagi. Namun setelah mereka naik ke daratan, ternyata semuanya tidak semudah yang mereka bayangkan. Mereka memang berhasil mendapatkan petinya, namun untuk membukanya dan mengambil mutiara di dalamnya diperlukan sebuah kata sandi yang seharusnya tertulis di kitab itu, tapi sayang sekali bagian itu telah tersobek dan hanya tampak petunjuk untuk memecahkan sandi itu: EMPAT-KAKI-PAGI-DUA-KAKI-SIANG-TIGA-KAKI-MALAM.
Mereka semua hampir menjerit frustasi karena teka-teki yang aneh, nggak masuk akal, dan jayus ini. Namun, Imam Bonjol hanya tersenyum-senyum saja dan dengan tenang dia mengambil peti itu dan mengucapkan dengan lantang, “Jawabannya ‘Manusia’.”
Serta merta peti itupun terbuka memperlihatkan sebuah mutiara berwarna ungu-amethyst berdiameter sekitar lima senti yang berkilauan ditimpa cahaya matahari yang baru muncul setelah keluar dari bayangan bulan. Keempat orang itu sungguh terpesona dengan kejeniusan Imam Bonjol dan bertanya darimana Ulama yang alim itu belajar teka-teki.
Iman Bonjol dengan tenang menjawab, “Ini adalah teka-teki yang sangat umum di negeriku, Indonesia. Tidak ada anak di Indonesia yang tidak mengenal teka-teki ini. Maksud dari teka-teki ini adalah manusia ketika masih bayi berjalan dengan merangkak dan dilambangkan dengan pagi hari berjalan dengan empat kaki. Saat menjadi dewasa dilambangkan dengan siang hari berjalan dengan dua kaki. Saat manusia sudah tua dan membutuhkan tongkat untuk membantu berjalan, dilambangkan dengan malam berjalan dengan tiga kaki.” Imam Bonjol menguraikan.
“Jayus banget,” komentar Luther, yang sejak awal hubungan dengan Imam Bonjol sudah kurang enak gara-gara masalah keagamaan.
Bagaimanapun juga, mereka membawa mutiara itu ke hadapan Ratu Cleopatra. Sang Ratu sangat terkejut ketika mereka memasuki ruangannya. Pertama karena entah bagaimana tahu-tahu jumlah orangnya bertambah dari tiga menjadi lima orang, kedua karena mereka sungguh-sungguh bisa mendapatkan mutiara awet muda yang sebetulnya hanya dikarangnya! Apa boleh buat, nasi sudah menjadi bubur…ayam. Walaupun dengan berat hati, sesuai janjinya Ratu Cleopatra memberikan perbekalan dan kapal bagi Alexander, Marcos, dan Louis supaya mereka bisa pulang ke negara mereka masing-masing.
Ketiga penguasa ini sungguh gembira, terutama Alexander, karena dia yang paling ngeri berada di dekat ratu dengan lirikan menggoda itu. Atau mungkin karena dia yang paling muda dan *mungkin* paling tampan sehingga Ratu kemungkinan akan jauh lebih tertarik padanya daripada ke Marcos yang sudah tua keriputan pula ataupun Louis XVI yang gendut dan pengecut. Aku nggak akan mau kembali ke sini lagi kalau nggak terpaksa… seandainya di masa depan aku terpaksa harus menginvansi Mesir, akan kusuruh si Hephaistion saja… aku nggak mau ketemu ratu maniak ini lagi!! Janji Alexander pada dirinya sendiri.
Sementara Louis sangat lega karena akhirnya bisa lepas dari udara Mesir yang luar biasa panasnya. Sesampainya di Perancis aku akan borong air conditioner dari Rusia!! Peduli amat soal utang Negara! Toh, rakyat tidak akan melakukan revolusi! Katanya pada dirinya sendiri. (Oo, Louis XVI, be careful what you’re wishing for…)
Sementara Marcos, sangat senang bisa kembali ke Filipina dan menjadi diktator lagi tanpa gangguan ‘bocah Yunani sarkastik dengan tampang belagu’ dan ‘tikus pengecut gendut’. Dan lagi, ketiga penguasa itu telah mencapai persetujuan tidak tertulis bahwa mereka tidak akan pernah lagi saling menyerang satu sama lain supaya tidak mengulang pengalaman *pahit* yang sama. (Coba dicek, pernahkah tertulis dalam literatur tentang Macedonia menginvasi Perancis atau Filipina ataupun sebaliknya?) Dengan demikian, kedamaian pun ditegakkan di dunia.
~THE E… oh no, wait a sec…~
Sementara itu, bagaimana dengan Ratu Cleopatra? Sang Ratu rupanya sudah sembuh dari kesedihan kehilangan tiga cowok keren yang hampir saja menjadi miliknya. Kini, sang ratu sedang tertarik dengan mainannya yang baru bernama ‘Imam Bonjol’… Bagaimana nasib Ulama alim yang tidak berdosa ini? Hanya *nasib* yang bisa menjawabnya. Kalau saja boleh membuat satu halaman lagi mungkin nasib Imam Bonjol bersama Cleopatra bisa diuraikan panjang lebar di sini. Oh, sementara itu, Luther akhirnya menjadi pengajar di Universitas Al-Azhar dan membuka jurusan baru di sana yaitu jurusan agama Protestan. Dia sangat bahagia karena impiannya menyebarkan agama protestan bisa terwujud. Setiap orang punya impian besar, dan mereka menjadi besar berkat impiannya itu. Tidak terkekang oleh waktu, para tokoh dalam cerita ini akhirnya menjadi tokoh-tokoh sejarah yang namanya tertulis dalam literatur-literatur yang dapat dibaca beratus-ratus generasi ke depan. Semuanya berkat ambisi. Ambisi boleh, asal jangan berlebihan, itu saja.
~now, this is the real THE END~